Powered By Blogger

selamat datang

selamat datang di blog saya mudah-mudahan bisa berguna untuk kita semua. amiiinnnnnnn

Cari Blog Ini

Rabu, 26 Mei 2010

SEPUTAR BAHASA DAERAH "BAHASA BANJAR"

Bahasa Banjar

Bahasa Banjar merupakan bagian budaya bangsa. Bahasa ini digunakan oleh etnis yang berdomisili di Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Hapip (1997:xi) menyatakan, bahasa Banjar digunakan oleh suku Banjar, suku yang mulanya mendiami hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Akibat perpindahan, percampuran penduduk dan kebudayaan dalam proses waktu berabad-abad, suku Banjar berikut bahasanya menyebar sampai ke daerah lain di Kalimantan, termasuk di pulau Sumatra, seperti di Muara Tungkal, Sepat dan Tembilahan.

Bahasa Banjar selain digunakan oleh mereka yang tinggal di pedesaan, juga di perkotaan.Dalam banyak hal, bahasa Banjar memiliki beberapa kemiripan dengan bahasa Indonesia, namun bahasa Banjar tetap memiliki sejumlah ciri khas yang spesifik.

Bahasa Banjar memiliki dialek yang khas. Perbedaan paling mencolok selain dialek, juga huruf atau vokal. Pada Banjar Hulu cenderung memiliki irama variatif, dan hanya memiliki huruf vokal (a), (i), dan (u). Banjar Kuala masih memiliki huruf vokal lainnya, selain vokal itu, yakni (e) dan (o), sama-sama berirama tapi nadanya berbeda.

Karena itu jika Banjar Kuala menyebut kata pender, geteng, lolongkong, koreng kedengarannya begitu signifikan. Kontras dengan Banjar Hulu, jika menyebut istilah yang sama, namun yang terdengar seperti pandir, giting, lalungkang, dan kuring.

Ciri lain dari bahasa Banjar terletak pada abjad dan ejaan, ada beberapa kata bentukan yang mengandung susunan vokal berturut-turut. Seperti kata a’asaan (ragu-ragu), a’anakan (boneka), a’aliman (agak santri), i’ih (ya) dan sebagainya. Susunan vokal seperti itu cukup khas, yang mungkin hanya terdapat pada bahasa Banjar.

Sedangkan secara sintaksis, struktur bahasa Banjar juga memiliki ungkapan yang khas juga. Bahasa Banjar memiliki kata fungsi atau partikel seperti pang, lah atau lih, gan atau gin, ai.

Contoh penggunaan dalam kalimatnya :

* Umailah samuan barang hari ini harganya malangit.’Aduh, semua barang hari ini harganya naik tinggi = “seperti langit ‘

*Aku gin lapar. ‘Saya pun lapar‘

Berikut sekedar gambaran, dikutip sepotong pembicaraan beretika antara seorang anak yang baru pulang dengan ibunya yang sudah lama menunggu di rumah,

Ibu : U nak, ka mana ikam tadi maka talambat bulik sakulah.

‘Wahai anak, kemana kamu tadi hingga terlambat pulang sekolah‘

Anak : Singgah di rumah kawal Ma’ai, umpat balajaran, manggawai tugas.

‘Mampir di rumah teman Bu, ikut belajar bersama, ngerjakan tugas‘

Ibu : Sudah makanlah ikam nak?

‘sudah makan kamu nak?‘

Anak : Inggih,ulun sudah Ma’ai pian pang ?

‘Ya, saya sudah Bu, Ibu?‘

Ibu : Sudah jua, lakasi mandi jan, parak dah magriblah, kaina balajar ngaji.

‘Sudah juga, cepat mandi, sudah hampir sholat magrib, nanti belajar ngaji’

Anak : Inggih Ma’ai!

‘Ya, Bu!‘

Begitulah gaya bicara etnis Banjar, dimana saja. Sejauh mereka berbicara dengan sesama etnis Banjar dan dalam suasana informal dapat dipastikan mereka akan menggunakan aksen dan bahasa Banjar. Bahasa Banjar dipakai oleh semua lapisan masyarakat tanpa membedakan kelas.

1. Pertautan Bahasa Banjar

Pertautan bahasa Banjar dapat dilihat dua sisi berbeda, yakni (1).dalam konteks pemakaian bahasanya (2).dalam konteks posisi pemaknaan/penjelasan terhadap bahasa itu sendiri.

Pada konteks pemakaian bahasa, antara bahasa Indonesia dan bahasa Banjar cenderung saling membutuhkan (interdependent). Sedang dalam konteks pemaknaan cenderung dependent dan independent. Dependent terjadi karena bahasa Banjar tergolong membutuhkan penyerapan untuk itu dalam rangka pengayaan bahasa Banjar perlu menyerap bahasa Indonesia. Hanya saja penyerapan bahasa Indonesia ke bahasa Banjar itu sering dengan dialog lokal, dalam penyerapan itu hanya sedikit yang berubah, yakni huruf atau vokal seperti (e) bisa menjadi (a) atau (i) dan (o) selalu menjadi huruf (u) jika diucapkan, misalnya istilah televisi menjadi tilivisi.

Contoh lain :
seperti kata manganggur (menganggur)

sabab (sebab)

kanapa (kenapa)

balum (belum)

sinduk (sendok)

sakulah (sekolah)


Independent terjadi karena adanya ungkapan bahasa Banjar yang tak dapat dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Contoh: Intilnya ikam ni maandak cangkir di hujung mija. ‘intilnya kamu meletakan gelas di ujung meja’. Kata intil ini menggambarkan posisi gelas yang diletakkan di ujung meja, meski belum jatuh namun kondisi mengkhawatirkan.


1. Pengertian Partikel

Katagori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam partikel penegas: kah, lah, tah, dan pun.

Pertikel adalah semacam kata tugas yang memiliki bentuk khusus, yaitu sangat ringkas atau kecil, yang mengemban fungsi –fungsi tertentu (Keraf,1991:114). Partikel adalah alat bahasa yang merupakan bagian kalimat yang bersifat afektif (menyatakan perasaan), yang merupakan morfem setengah bebas atau kadang-kadang kata yang berupa morfem terikat (Soekono,1984:151).

Partikel berfungsi menegaskan atau mementingkan kata yang ada dimukanya. Partikel memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Jumlahnya terbatas;
2.Keanggotaannya tertutup (sebagai oposisi dengan kata);
3. Biasanya tidak mengalami proses morfomis;
4.Umumnya tidak memiliki makna leksikal tetapi memiliki makna gramatikal;
5. Partikel dapat ditemukan datanya pada setiap jenis wacana, percakapan;
6.Partikel dikuasai oleh para penutur bahasa dengan cara dihafalkan.

Perbedaan antara partikel dan sufiks (dan semua afiks yang lain) adalah sebagai berikut:

1 Partikel tidak mengubah kelas kata dari kata-kata yang diikutinya: sebaliknya sufiks mengubah kelas kata dari kata yang diikutinya.

Misalnya : Pergilah! (pergi tetap kata kerja)
Tetapi :
Cangkul > cangkulkan! (katabenda > kata kerja)
Lari > larikan! (kata kerja intransitif > kata kerja transitif)


1. Kata-kata yang diikuti sebuah partikel bermacam-macam kelas katanya karena tetap mempertahankan kelas katanya (kaidah I) sebaliknya, sufiks mengubah bermacam-macam kelas kata menjadi kelas baru.

Misalnya :

* Siapakah dia? (kata ganti tanya)


* Di manakah barang itu? (kata adverbia)


* Bapakkah yang datang? (tetap kata benda)


* Besarkah pulau itu? (kata sifat)


* Dengarkah olehmu suara itu? (tetap kata kerja)


* Sudahkah kamu menemuinya? (tetap kata kerja)

Tetapi :



* Besarkah api itu! (kata sifat > kata kerja)


* Tidurkan anak itu! (kata kerja intransitif > kata kerja transitif)


* Tongkatkan pohon itu! (kata benda > kata kerja)


Sudahi pertengkaran itu! (kata tugas > kata kerja)


Bidang gerak partikel adalah sintaksis (termasuk frasa dan klausa) sebaliknya bidang gerak sufiks adalah morfologi.


Ay, sebagai pelemah untuk menyatakan harapan, permintaan.

Contoh :

Tukarakan ay dingay. ‘Belikan saja dik‘.


Disini ay dululah. ‘Disini saja dulu ‘

Tidak ada komentar:

Posting Komentar