Powered By Blogger

selamat datang

selamat datang di blog saya mudah-mudahan bisa berguna untuk kita semua. amiiinnnnnnn

Cari Blog Ini

Rabu, 26 Mei 2010

SEPUTAR BAHASA DAERAH "BAHASA SUNDA"

Bahasa Sunda sebagai "bahasa vernakular".

Orang-orang dari suatu daerah yang datang ke daerah Sunda, baik untuk tinggal sementara (belajar atau bekerja), ataupun untuk tinggal selamanya, pada awalnya mungkin akan menemukan banyak hambatan bahasa dalam adaptasi mereka. Seperti cerita di bawah ini:

Seusai shalat Jumat, seorang pria asal Medan yang baru seminggu di tanah Sunda bingung saat mengetahui sandalnya hilang. Lalu, ia bertanya kepada orang-orang di sekitarnya.

Orang Medan : “Bah, Kemana sandal saya?”

Orang Sunda 1 : “Pahili meureun, Pak!”

Orang Medan : “Siapa itu Pak Hili?”

Orang Sunda 2 : “Oh, pagentos meureun, Pak!”

Orang Medan : “Siapa pula Pak Gentos?”

Orang Sunda 3 : “Aduh kumaha nya… patukeur meureun, Pak!”

Orang Medan : “Nah, tambah pula yang lain. Siapa itu Pak Tuker?

Berarti Pak Hili, Pak Gentos, dan Pak Tuker bersekongkol

nyolong sandal saya!”

Orang Sunda 1, 2, 3 : “Panginteun!”

Kata-kata Sunda: pahili, pagentos, dan patuker di atas berarti ‘tertukar’ sedangkan meureun dan panginteun berarti ‘mungkin’. Hanya saja pagentos dan panginteun tingkatannya lebih halus.

Inilah keistimewaan bahasa Sunda, ada tingkat kehalusan dalam berbicara yang menunjukkan alam pikiran atau status sosial. Dalam bahasa Sunda terdapat sejumlah kata untuk orang pertama (saya, aku), yaitu: abdi, kuring, uing, urang, kula, dewek, maneh, dan aing, sedangkan untuk orang kedua (kau, kamu) adalah: andika, anjeun, maneh, silaing, dan sia. Kata ‘makan’ pun dapat diterjemahkan menjadi sejumlah kata dalam bahasa Sunda, seperti:

* Neda, untuk diri sendiri
* Tuang, untuk orang yang kita hormati
* Dahar, untuk teman sebaya atau bawahan
* Nyatu, untuk hewan
* Emam, untuk anak kecil

Dalam pengertian luas, bahasa Sunda di Indonesia bisa disebut bahasa vernakular, karena bahasa ini didapatkan dari lingkungan keluarga. Bahasa vernakular merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk percakapan sehari-hari di rumah dan di lingkungan teman dekat. Sejumlah bahasa daerah di Indonesia yang belum dikodifikasikan juga bisa termasuk bahasa vernakular. Dalam suatu masyarakat multilingual, banyaknya bahasa suku atau etnik yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang berbeda dianggap sebagai bahasa vernakular.

Ciri-ciri bahasa vernakular yaitu:

1. Belum distandarkan

2. Bahasa pertama didapatkan dari rumah

3. Fungsinya relatif terbatas


Bahasa Sunda VS Bahasa Daerah Lain

Ada sejumlah kata bahasa Sunda yang sama dengan bahasa daerah lainnya namun mempunyai arti yang berbeda. Misalnya kata cokot dalam bahasa Sunda berarti ‘ambil’, namun dalam bahasa Jawa berarti ‘gigit’. Seorang pembantu keluarga Sunda yang berasal dari Jawa tentu saja bisa kebingungan ketika diperintah, “Cokot sepatu Ibu di rak sepatu!” oleh majikannya.

Kebingungan dengan kata yang sama pernah sahabat saya, Lia mengalami sendiri saat tinggal di tanah priangan. Saat itu sahabat saya dan temannya sedang berjalan menuju kampus. Agar jarak tempuh tidak terlalu jauh, sahabat saya mengajak si teman untuk mengambil jalan lain yang lebih dekat.

"Kita mentas yuk, Len." kata sahabat saya yang bernama Lia kepada Lena yang asli Sunda.

"Hayuu....!" jawabnya sambil menggandeng tangan sahabatku Lia untuk menyebrang.

Saat itu kita tarik-tarikan sambil tertawa geli. Ternyata, mentas dalam bahasa Palembang yang berarti "mengambil jalan pintas" berbeda makna dengan 'meuntas' dalam bahasa Sunda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar