Powered By Blogger

selamat datang

selamat datang di blog saya mudah-mudahan bisa berguna untuk kita semua. amiiinnnnnnn

Cari Blog Ini

Rabu, 26 Mei 2010

MEMBEDAH MAKNA DALAM SYAIR, SEBUAH TELAAH HERMENEUTIS

Kali ini adalah artikel yang dikirim oleh salah seorang rekan yang menunjukkan pada kita bahwa betapa pedulinya ia pada bahasa dan sastra itu sendiri. Berikut adalah postingannya:

Bahasa bukanlah sebuah media komunikasi tanpa keindahan. Mulai dari puisi, syair, hingga lantunan lirik – lirik lagu dengan iringan musik merupakan contoh dari seni keindahan berbahasa. Tentunya itu semua tidaklah kosong akan makna. Perasaan yang terbentuk atas sebuah pengalaman cinta telah membuat sang penyair menuliskan isi hatinya kedalam syair – syair cinta.
Martien Heideger menyatakan sebuah gagasan filosofis “ Bahasa adalah sangkar ada ”. Karena ia adalah tempat bagi beradanya ”ada” maka bagi sang penyair, bahasa bak seperti hati yang menghadirkan sebuah perasaan dengan penuh kasih.
Berangkat dari lirik – lirik lagu yang telah membawa perasaanku dalam kesatuan makna dari bahasa syair maka ku mencoba memaknai syair dari perspektif hermenutis.
Dari Intensionalisme ke Gadamerian
Makna adalah sesuatu yang mendahului teks ( intensionalisme ). Dari sang pengarang, makna di teruskan kedalam teks. Dari sini obyektivitas penafsiran adalah pahamannya. Kandungan makna dalam syair pada perspektif ini hanyalah milik sang pengarang.
Dari intensionalisme kni ke gadamerian yang melihat relevansi penafsiran sang penafsir sehingga makna bukanlah sesuatu yang mendahului teks, tapi ia adalah subyektivitas sang penafsir.
Dari Sang Penyair Untukku
Mulai dari mencintai, kebahagiaan akan cinta hingga ekstase karena cinta telah membuat sang penyair menuliskan syair – syair cintanya. Kini syair itu bukan lagi ditujukan untuk dirinya namun telah tertuju padaku.
Kini bukan lagi ” Risalah hati, Cintailah cinta, Dua Sejoli, Hidup ini indah, Kosong, Larut, Selimut hati ” bagi Dewa 19 dan juga kini bukan lagi ” Apalah arti mencinta, Cinta dalam hati, Ku ingin selamanya, Tercipta untukku ” bagi Ungu tapi kini ia semua adalah sesuatu bagi diriku.

Penulis :
"DEDI SETIAWAN"
• Mahasiswa Ilmu Pemerintahan 08 Fisip Unmul
• Anggota Pusat Studi Peradaban ( PSP ) Samarinda
• Anggota Himpunan mahasiswa Islam ( HmI ) Komisariat Fisip Unmul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar